Archive for the ‘Poem’ Category

Rumah Kayu

kala kau cipta sore gaduh di cinta senja

jantungku tergaguk tersara-bara

gegana biru kelayapan di ujung-ujung kepala

patah lidah bergugup terbata-bata

mulut lelakiku menggayem menggemparkan

bergelandang berhanyut-hanyut

menelusuri kobar menggelegak

kalang kabut ku termengah-mengah

duhai rasa ini.. riuh rendah semarak detak bertalu

menggedor geletar pucuk-pucuk rindu

bergentayangan berkeliaran menderu-deru

membangunkan kuncup-kuncup mungil wanitaku

Supratman, 25 Oktober 2009

Zev

Malam

saat mataku terpejam
engkau menyala di dalam

kau pahat aku
penuh kepedulian

kita saling bersandar
berterus terang

segenggam raksa surga
kering di tanganku

dengan mata terpejam
cinta kita lelap

di pelukan malam

Supratman, 26 November 2009

Zev

Pada Dirimu

Pada dirimu yang jernih
Kutenggelam dalam luka dan bebatuan
Bunyi petir menggelegar dan melenyapkan suara
Bau rerumputan seperti birahi musim
Yang meradang kesunyian melesat panas

Seduku menggeliat
Pada hening dan lelehan air hujan
Kota menjadi porak poranda
Dari sakit yang tak tersembuhkan
Seperti kristal hatimu. Dan belati bagi rinduku.

Poem by Zeventina

Sajak seorang lelaki untuk bidadari

v4.jpg

 

Hai, bidadari..
Aku lelaki..

Perlukah definisi dan kata-kata?
ketika rasa dan jiwa terasa tersatu

 

Beberapa jam beda menjadi relatif
ketika ruang serasa sama
dan rasa untuk menyatu menjadi pikiran utama

 

Bidadari,
venus bagiku
matahari bagi dinginnya hari yang membekukan darahku
Embun pagi bagi keringnya jiwa

 

Bidadari,
aku ingin menyatu denganmu
menikmati tiap detil dekik senyummu
menghirup seluruh kehangatanmu
dan bersatu dengan kehangatanku

 

Bidadari,
Yang kecantikanmu mengalahkan terangnya sinar mentari
dan membuat layu sinar rembulan
kau selalu terang
selalu benderang di hati dan ingatanku

 

Bidadari, terimakasih telah ada di hariku…..

 

==========================================

Good Night, Sweetheart

Selamat malam, cinta. Kubisikkan kalimat itu lembut pada angin yang menggoda dari balik sunyinya malam di Erlangen. Tirai jendela bergoyang, senada dan seirama mendesah pada tungkai-tungkai kayu yang bening. Tanganku kokoh bertumpu pada pinggiran jati di tempat tidur kita yang mungil, sedang sang angin menyelusup ke sela-sela kalbu, mendebarkan jiwa yang telah lama kehilangan makna.

Aku merindukan hadirmu, desau angin menyeruak, mempermainkan helai demi helai taburan bintang. Tanpa suara. Tanpa kata. Hanya keheningan yang tercipta dalam malam yang penuh debar. Tolong sampaikan pada dingin yang menjadi saksi atas semuanya.. bahwa malam kita sungguh indah..

Memory 2 malam di Erlangen, 25-26 Agustus 2006

Didedikasikan buat kekasih abadiku.. FXEP

Buku Tua

Membuka halaman buku tua
Ada derai air mata dan tawa
Lengkap sudah perjalanan

Bercermin daripadanya
Kita belajar dari kesalahan
Dan memperbaiki yang sudah benar

Membuka lagi halaman buku tua
Aku melihat dirimu disana..
Dirimu yang tlah lama kutinggalkan

Adakah terbersit
untukku, sahabat
setitik rindu disana?

Dedicated for Endang, Ning, Tin2, miss you so much!

Lagi kecapekan ngecat dapur, hiks.. pegel..