Archive for the ‘Cerpen’ Category

Nebula Hati (3)

Bagian III – Pertaruhan

Enno memandang lurus melalui kaca maya, ke arah konstelasi nun jauh. Posisinya sebagai lead designer di perusahaan Locus Aerospace Engineering membuatnya harus meninjau jalur produksi di tapal batas galaksi sesekali waktu. Semenjak lulus dari akademi, Enno telah diincar oleh beberapa perusahaan desain vessel, karena prestasinya yang amat baik.

Namun berada jauh dari gadis idamannya, Eloine, lah yang membuat pikiran dan perasaannya menjadi tak menentu. Rasanya Enno tidak bisa hidup jauh darinya. Memandang Eloine, sejak pertama bertemu di akademi, telah membuat hatinya berdebar lebih cepat dari biasanya. Mendengar suaranya mampu membuat Enno tersenyum, seolah semua beban hilang dari pundaknya. Namun tetap sulit baginya untuk bisa memandang langsung mata biru Eloine. Magnet yang dihasilkannya terlalu kuat untuk ditahankan oleh perasaan Enno.

“Sir, they expected you in the lab, right now,” suara merdu sekretarisnya mengambang melalui i-com, mengingatkannya untuk memeriksa hasil perubahan desain model terbaru, UL/403, yang dirancang dari awal oleh Enno sendiri.

“Thank you, Bianca. I will be there in a minute.”

Enno bergegas keluar dari ruangannya dan mengambil lokasi kereta maglev terdekat untuk menuju lab desain di dalam kompleks LAE. Perjalanannya hanya berlangsung beberapa menit. Ia segera menghampiri tim yang sudah menunggunya lebih dulu.

“Let’s do it. We have a lot of works to do here.”

o0o

Read the rest of this entry »

Nebula Hati (2)

Bagian II – Memento

Udara dingin mulai terasa menusuk kulit, mengingatkan bahwa masa Sol masuk ke wilayah negatif. Eloine masih berdiri di depan gedung kampus, menunggu jemputannya. Hari terakhir masa ujian umum telah berakhir, dan ia sudah menyelesaikan ujian khusus seminggu yang lalu dengan nilai amat memuaskan.

“Elai!” seseorang memanggil namanya. Eloine telah hafal panggilan akrab tersebut, cuma datang dari seorang pemuda yang telah ia kenal lama. Enno. Ia dan Enno cukup terkenal di akademi karena prestasi akademik mereka. Bahkan beberapa kali mereka saling salip dalam soal nilai kuliah.

Enno berjalan menghampiri Eloine. “Ayo! Udara semakin dingin, tidak baik terlalu lama berada di luar,” kata Enno sambil memegang tangan Eloine. “Aku antar kamu pulang, ya?”

“Aku…” sesaat Eloine ragu untuk meneruskan kata-katanya. Sekilas pegangan Enno mampu memberikan rasa hangat pada perasaannya, membuat rasa dingin cuaca sedikit berkurang.

“Ayolah! Kenapa lagi? Aku khan tidak akan menggigitmu,” Enno tertawa lebar, berusaha meyakinkan Eloine.

“Aku… sudah janji dengan seseorang,” kata Eloine perlahan.

Mata Enno menyipit sesaat, senyumnya nampak agak tertahan oleh emosi yang tak terkatakan. Namun ia berhasil menguasai perasaannya. “Ah, I see…” sambil tetap berusaha tersenyum. “Kalau begitu aku temani kamu di sini, ya?”

Eloine memandang lurus pada mata coklat yang telah ia hafal sifatnya. Dulu Enno adalah pemuda yang pemalu. “Baiklah,” jawabnya singkat.

“Ayo kita duduk di sana!” Enno menunjuk bangku di dekat mereka, sambil mengelak dari tatapan Eloine. “Paling tidak kamu gak perlu berdiri lama-lama.”

Read the rest of this entry »

Nebula Hati

Bagian I – Arena


wipeout-narrowweb-300x3870.jpgPutaran ke sepuluh baru saja dilaluinya. Juno memusatkan pandangan pada jalur di depannya sambil mengamati bagian kiri dan kanan untuk memastikan tidak ada kepingan yang menghalangi. Dua putaran lagi dirinya akan masuk ke pit, untuk mengisi bahan bakar dan cek ulang beberapa telemetri kendaraannya.

“Ah!” mendadak saja Juno melihat dari sudut matanya bahwa kendaraan Enno menyalip secara kilat.

“Sial! Butuh waktu lama untuk bisa menyalip dia lagi…” gerutunya. Enno adalah saingan utama Juno dalam balapan kali ini. Keduanya sudah saling kenal sejak bertetangga dari kecil, hingga masuk ke akademi. Bibit persaingan pun sudah lama ada, dan memuncak saat keduanya jatuh hati pada gadis yang sama.

Juno sedang membetulkan tali sepatunya yang terlepas, saat pertama kali ia melihatnya. Gadis itu berjalan angkuh, dengan kepala tegak menantang. Matanya memandang lurus ke depan, tak hirau pada Juno yang melemparkan senyum padanya.

“Hei! Gadis!” teriak Juno.

Read the rest of this entry »

Elegi Buat Seruni

miskin-di-pahang1.jpgSeruni terduduk di pojok jalan, menunduk dalam dengan rambut terurai menutupi sebagian wajah yang sarat oleh air mata. Hujan deras tak di pedulikannya, guntur yang menyambar tak di rasa, rasa kehilangan yang menyakitkan lebih hebat dari segalanya.

Rerumputan basah menemani dengan bau khasnya. Cerita cinta yang manis baru saja berakhir. Pilu. Tak terbayang hidup akan seperti apa tanpa kehangatan dan sinar kasih Elegi. Seruni sudah terbiasa dengan ritme Elegi.

Seorang anak dengan perut buncit akibat busung lapar menghampiri, dengan 2 payung besar di tangannya.

Read the rest of this entry »