<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Zeventina&#039;s Journey</title>
	<atom:link href="http://journey.zeventina.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://journey.zeventina.com</link>
	<description>Catatan kebahagiaanku</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Aug 2010 10:18:29 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Rumah Kayu</title>
		<link>http://journey.zeventina.com/?p=713</link>
		<comments>http://journey.zeventina.com/?p=713#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Nov 2009 02:57:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poem]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://journey.zeventina.com/?p=713</guid>
		<description><![CDATA[kala kau cipta sore gaduh di cinta senja jantungku tergaguk tersara-bara gegana biru kelayapan di ujung-ujung kepala patah lidah bergugup terbata-bata mulut lelakiku menggayem menggemparkan bergelandang berhanyut-hanyut menelusuri kobar menggelegak kalang kabut ku termengah-mengah duhai rasa ini.. riuh rendah semarak detak bertalu menggedor geletar pucuk-pucuk rindu bergentayangan berkeliaran menderu-deru membangunkan kuncup-kuncup mungil wanitaku Supratman, 25 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://journey.zeventina.com/wp-content/uploads/2009/11/love.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-749" title="love" src="http://journey.zeventina.com/wp-content/uploads/2009/11/love.jpg" alt="" width="350" height="231" /></a></p>
<p>kala kau cipta sore gaduh di cinta senja</p>
<p>jantungku tergaguk tersara-bara</p>
<p>gegana biru kelayapan di ujung-ujung kepala</p>
<p>patah lidah bergugup terbata-bata</p>
<p>mulut lelakiku menggayem menggemparkan</p>
<p>bergelandang berhanyut-hanyut</p>
<p>menelusuri kobar menggelegak</p>
<p>kalang kabut ku termengah-mengah</p>
<p>duhai rasa ini.. riuh rendah semarak detak bertalu</p>
<p>menggedor geletar pucuk-pucuk rindu</p>
<p>bergentayangan berkeliaran menderu-deru</p>
<p>membangunkan kuncup-kuncup mungil wanitaku</p>
<p>Supratman, 25 Oktober 2009</p>
<p>Zev</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://journey.zeventina.com/?feed=rss2&#038;p=713</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Diskusi Novel Elle Eleanor</title>
		<link>http://journey.zeventina.com/?p=692</link>
		<comments>http://journey.zeventina.com/?p=692#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 11:39:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tina</dc:creator>
				<category><![CDATA[ELLE ELEANOR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://journey.zeventina.com/?p=692</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah diskusi (bedah buku) ELLE ELEANOR pertama sejak buku ini diterbitkan. Bedahnya dilakukan oleh Hermawan Aksan yang senyumnya kata orang mirip Mayong suami Nurul Arifin. Aksan memuji, sekaligus mengkritik. Pujiannya antara lain, ending novel ini (yang menghadirkan tokoh Salyo sebagai pembunuh), mengingatkannya pada novel Holywood. Dan banyak lagi. Kritiknya antara lain, masalah tanggal dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ini adalah diskusi (bedah buku) ELLE ELEANOR pertama sejak buku ini diterbitkan. Bedahnya dilakukan oleh Hermawan Aksan yang senyumnya kata orang mirip Mayong suami Nurul Arifin. Aksan memuji, sekaligus mengkritik. Pujiannya antara lain, ending novel ini (yang menghadirkan tokoh Salyo sebagai pembunuh), mengingatkannya pada novel Holywood. Dan banyak lagi.</p>
<p>Kritiknya antara lain, masalah tanggal dan usia Maryati, yang jika dihitung2 jaraknya dengan Johan seharusnya terpaut jauh. Dalam pandangan Aksan, Johan diperkirakan berusia sekitar 60 tahun, tetapi dalam novel disebut berbadan atletis. Kritik lainnya adalah ada beberapa kesalahan editing, cara penulisan koma dll. Jadi jika novel ELLE ELEANOR diibaratkan intan, tinggal diasah saja maka akan menjadi karya yang lebih baik.</p>
<p><span id="more-692"></span></p>
<p><a href="http://journey.zeventina.com/wp-content/uploads/2009/11/15531_1082165233185_1797967555_185083_261391_n.jpg"><img class="alignright size-medium wp-image-708" title="15531_1082165233185_1797967555_185083_261391_n" src="http://journey.zeventina.com/wp-content/uploads/2009/11/15531_1082165233185_1797967555_185083_261391_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p>Saya salut terhadap pengamatan Aksan. Beliau cukup kritis. Waktu itu, karena tak ada kesempatan jawab, maka kritiknya tak terjawab. Padahal saya ingin menjawab semua kritikan tersebut. Bahwa saat novel itu dibuat, semua tokoh sudah kami buat CV-nya lengkap, mulai tanggal lahir, warna rambut, bentuk tubuh, dialek dll. Jadi soal usia, semua sudah kami perhitungkan matang. Niwey, semua kritik tersebut memacu saya ke depan untuk ke arah perbaikan. Thank you Mayong! Upss.. Aksan..</p>
<p>Kedua, Nana Mulyana. Nana berpendapat bahwa plot cerita novel Elle Eleanor sangat filmis. Sangat mungkin untuk dibuatkan script film. Ide ceritanya juga dipastikan laku jika di filmkan atau sinetronkan. Thank you Nana.</p>
<p><a href="http://journey.zeventina.com/wp-content/uploads/2009/11/15531_1082161113082_1797967555_185082_7152760_n.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-709" title="15531_1082161113082_1797967555_185082_7152760_n" src="http://journey.zeventina.com/wp-content/uploads/2009/11/15531_1082161113082_1797967555_185082_7152760_n-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a></p>
<p>Secara keseluruhan, saya cukup puas dengan diskusi yang dimoderatori oleh Iwan Fauzi ini. Beliau sangat piawai menentukan arah diskusi. Selain beliau hadir juga pembaca narasi, Tandi Skober. Kehadiran beliau membuat diskusi menjadi hangat dan banyak tawa.</p>
<p>Ada pembacaan prolog oleh Michan dan puisi oleh Lisa. Keduanya membaca dengan indah. Khusus untuk Lisa, saya terharu sekali. Penghayatannya akan puisi yang dadakan saya buat lalu diberi sentuhan oleh Zanzad, menjadi hidup. Saya sangat merasa ruh Eleanor hadir malam itu lewat puisi. Thank you so much darling..</p>
<p>Terakhir, pembawa acara yang murah senyum, peramah dan sopan. Desiree, penyiar DFM jakarta. Nona cantik ini begitu lincah, tanggap dan merdu suaranya, membuat orang yang mendengar klepek2 dalam hitungan jam. Sayang sekali microphone di Kongkow tidak bagus, sehingga diskusi yang seharusnya berjalan hidup menjadi kurang.</p>
<p>Acara diskusi ini, membawa cakrawala baru buat saya. Berkenalan dengan banyak orang baru bervisi sama, adalah potensi besar bagi langkah ke depan. Belum terasa sekarang, tetapi efeknya akan mengikuti asal kita konsisten.</p>
<p>Behind the scene, saya dan Zanzad sebagai perancang acara ini, nyaris kehabisan nafas. Kami kapok rasanya, ternyata membuat acara itu tak mudah. Banyak sekali waktu tercurah untuk diskusi ini. dari mulai mencari tempat, membuat janji dengan banyak pihak terkait, mendesign undangan, membuat flash untuk slide, dll. Sementara di luaran sudah ada EO.</p>
<p>Tapi dasar kami sama2 idealis, tak suka mempercayakan acara pada EO. Kami ingin ruh ELEANOR hadir, berkesan dan tak mudah dilupakan..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://journey.zeventina.com/?feed=rss2&#038;p=692</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Malam</title>
		<link>http://journey.zeventina.com/?p=683</link>
		<comments>http://journey.zeventina.com/?p=683#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Nov 2009 11:28:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Poem]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://journey.zeventina.com/?p=683</guid>
		<description><![CDATA[saat mataku terpejam engkau menyala di dalam kau pahat aku penuh kepedulian kita saling bersandar berterus terang segenggam raksa surga kering di tanganku dengan mata terpejam cinta kita lelap di pelukan malam Supratman, 26 November 2009 Zev]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>saat mataku terpejam<br />
engkau menyala di dalam</p>
<p>kau pahat aku<br />
penuh kepedulian</p>
<p>kita saling bersandar<br />
berterus terang</p>
<p>segenggam raksa surga<br />
kering di tanganku</p>
<p>dengan mata terpejam<br />
cinta kita lelap</p>
<p>di pelukan malam</p>
<p>Supratman, 26 November 2009</p>
<p>Zev</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://journey.zeventina.com/?feed=rss2&#038;p=683</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Profileku di Tabloid Wanita Indonesia</title>
		<link>http://journey.zeventina.com/?p=675</link>
		<comments>http://journey.zeventina.com/?p=675#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Aug 2009 02:03:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tina</dc:creator>
				<category><![CDATA[ELLE ELEANOR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://journey.zeventina.com/?p=675</guid>
		<description><![CDATA[Profileku masuk ke tabloid Wanita Indonesia. Edisi 1024. Aku ada di halaman 3. Selain profile, juga cuplikan novelku ELLE ELEANOR dan proses kreatifnya yang unik. Iya unik karena saat menulis novel itu, saya dan partner menulis saya terpisah lokasi demikian jauh, saya di Jerman dan dia di Indonesia, kami belum pernah bertemu muka saat novel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Profileku masuk ke tabloid Wanita Indonesia. Edisi 1024. Aku ada di halaman 3. Selain profile, juga cuplikan novelku ELLE ELEANOR dan proses kreatifnya yang unik. Iya unik karena saat menulis novel itu, saya dan partner menulis saya terpisah lokasi demikian jauh, saya di Jerman dan dia di Indonesia, kami belum pernah bertemu muka saat novel itu kami selesaikan bersama.</p>
<p><span id="more-675"></span></p>
<p><a href="http://journey.zeventina.com/wp-content/uploads/2009/08/wanita-indonesia-edisi-1024-a.jpg"><img class="aligncenter size-medium wp-image-676" title="wanita-indonesia-edisi-1024-a" src="http://journey.zeventina.com/wp-content/uploads/2009/08/wanita-indonesia-edisi-1024-a-300x218.jpg" alt="" width="300" height="218" /></a></p>
<p style="text-align: center;"><a href="http://journey.zeventina.com/wp-content/uploads/2009/08/wanita-indonesia-edisi-1024-b.jpg"><img class="size-medium wp-image-679 aligncenter" title="wanita-indonesia-edisi-1024-b" src="http://journey.zeventina.com/wp-content/uploads/2009/08/wanita-indonesia-edisi-1024-b-300x205.jpg" alt="" width="300" height="205" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://journey.zeventina.com/?feed=rss2&#038;p=675</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Novelku &#8220;ELLE ELEANOR&#8221;</title>
		<link>http://journey.zeventina.com/?p=656</link>
		<comments>http://journey.zeventina.com/?p=656#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 13:26:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tina</dc:creator>
				<category><![CDATA[ELLE ELEANOR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://journey.zeventina.com/?p=656</guid>
		<description><![CDATA[SINOPSIS Villa Pandersider berdiri gagah dan kokoh. Memangku karang dan menantang ombak laut selatan. Keangkerannya sama dengan keangkeran laut selatan. Masa lalu villa yang kelam; pesta sex, kegilaan istri pemilik villa dan pembunuhan padanya menjadi awal dari semua keangkeran villa. Penghuni dan tamu-tamu villa di masa lalu seolah datang dan pergi untuk menyebarkan petaka. Perang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size: small;"><span style="font-weight: bold;">SINOPSIS</span><br />
</span></p>
<div style="text-align: left;">
<div style="text-align: justify;">Villa Pandersider berdiri gagah dan kokoh. Memangku karang dan menantang ombak laut selatan. Keangkerannya sama dengan keangkeran laut selatan. Masa lalu villa yang kelam; pesta sex, kegilaan istri pemilik villa dan pembunuhan padanya menjadi awal dari semua keangkeran villa. Penghuni dan tamu-tamu villa di masa lalu seolah datang dan pergi untuk menyebarkan petaka.</div>
</div>
<p>Perang dunia kedua dan pendudukan Jepang mewarnai villa dengan airmata dan derita. Eleanor, istri pemilik villa yang cantik jelita terpaksa menanggalkan semua kemewahan dan menjalani hari-hari penuh siksaan sebagai tawanan Jepang. Sementara Robert suaminya terjebak perang Eropa. Setelah perang berakhir, Robert kembali ke Indonesia dan mendapati penderitaannya kembali bersama Eleanor. Banyak rahasia tersimpan setelah perang. Rahasia terdalam yang disembunyikan oleh Elenor adalah seorang anak setengah kuning yang tersembunyi di bagian villa.</p>
<p>Bagian paling rahasia villa adalah sebuah kamar bawah tanah. Di bangun dengan cucuran keringat, darah dan tebusan nyama kaum rodi penjara, kamar ini menjadi awal dari semua petaka. Robert sang pemilik villa membunuh istrinya yang cantik jelita, Eleanor, di kamar ini.</p>
<p><span id="more-656"></span></p>
<p>Bertahun-tahun berlalu. Waktu berjalan dan keangkeran villa yang tertidur kembali bangun ketika sekelompok anak muda dari Jakarta datang menyewa villa. Di awali dengan kegembiraan lalu berubah menjadi teror ketika salah satu dari mereka menghilang dan di temukan tewas terapung. Menyusul dua orang kemudian ikut menghilang.</p>
<p>Keanehan dan keangkeran makin mencekam ketika muncul lelaki misterius, menghilangnya tembok beton kokoh dan keanehan-keanehan lainnya.</p>
<p>Sakit jiwa dari masa lalu kembali terbangun dan menghantui villa.</p>
<p><span style="font-weight: bold; font-size: small;">PROLOG</span></p>
<div style="text-align: justify;">
<p>Kelip bintang menyatu dengan uap dingin pantai selatan. Butiran-butiran lembutnya sungguh menusuk tulang. Seakan diciptakan pada ukuran yang tepat untuk menembus kulit lalu merayap ke dalam kulit dan menggigit tulang dengan dinginnya.</p>
<p>Robert berjalan mengendap di kegelapan, bersembunyi disela-sela bayangan pohon dan pinggiran villa. Di depannya, seorang perempuan dengan tubuh tinggi semampai berjalan tenang. Bahkan kegelapan malam tidak mampu menyembunyikan keindahan tubuhnya. Langkah gemulainya menciptakan bayangan elok. Menari-nari diiringi suara deburan laut selatan yang menghantam karang-karang pantai Popoh.</p>
<p>Jelas sekali Robert sedang membuntuti perempuan itu. Tubuh tinggi besarnya tidak kesulitan bersembunyi di sela-sela gelap. Langkah berat dan gesekan sepatunya terkalahkan oleh suara deburan pantai selatan. Suara hantaman pantai selatan ke tebing terjal tempat villa berdiri serupa dengan suara badai. Robert menyembunyikan suaranya di sana.</p>
<div style="text-align: center;">ooOOoo</div>
<p>Lampu kristal berukuiran raksasa berada tepat di tengah kamar. Keindahannya luar biasa. Marmer putih tembus pandang dan potongan-potongan kristal tersusun dengan detil dan kerapian yang diperhitungkan. Api di tengah lampu kristal menyebarkan keindahannya melalui marmer dan kristal-kristal itu.</p>
<p>Kamar tempat lampu kristal itu ditempatkan mempunyai keindahan yang luar biasa. Keindahan lampu kristal hanyalah sedikit keindahan yang dapat digambarkan. Di seantero ruangan tersebar benda-benda indah dan mewah.</p>
<p>Di tengah ruangan adalah sebentuk ranjang dengan penutup satin putih tipis. Kehadiran ranjang di ruangan itu demikian mencoloknya. Seolah semua keindahan yang ada di ruangan itu ditujukan bagi kehadiran ranjang. Terbuat dari ukiran pohon jati kokoh dengan warna coklat tua, terlihat sangat serasi dengan kasur, bantal dan sprei tebal berwarna putih. Empat tiang penyangganya tinggi menjulang terlilit balutan satin sutra.</p>
<p>Di bagian tengah ranjang, tubuh molek Eleanor terbaring menantang. Dengan birahi yang tak pernah mati, Ele meletakkan tubuhnya di tengah hamparan sprei sutra putih tebal.  Keinginan yang memuncak yang tak sanggup ditahannya. Api birahi yang meletup-letup tak sanggup ditahannya. Dorongan dari dalam yang tak mampu ditolak oleh tubuh mudanya. Seperti pada malam-malam sebelumnya, Eleanor memutuskan untuk menyerah pada keinginan nafsu birahinya.</p>
<p>Di jam begini dia yakin Robert sudah terlelap. Maka seperti biasa, Ele akan melenggang santai ke kamar rahasianya.</p>
<p>Sastro sudah menunggu disana. Menyiapkan energi baru untuknya. Hari ini dua pelayan muda yang berbadan kekar sudah menunggu. Siap melaksanakan apa yang dia inginkan. Ele akan mengajak mereka berpetualang ke negeri yang paling indah yang tak akan terlupa. Robert terlalu tua untuk dapat memuaskan kehausannya. Dalam otaknya hanya bisnis dan bisnis saja.</p>
<p>Lalu malam semakin terang bagi Eleanor. Kegembiraan bagi jiwa dan tubuh mudanya ada di depan mata. Di tengah pembaringannya, Eleanor tersenyum siap menyambut dua lelaki muda yang berjalan masuk dengan bimbingan Sastro Pencor.</p>
<p>Kaki Ele terbuka lebar. Dua pelayan bergantian melayani nafsu yang bergelora, yang tak pernah terpuaskan dengan cepat. Gejolak meledak diiringi desah dan teriakan memenuhi seantero ruang. Sastro mulai terangsang. Dia suka melihat pemandangan seperti ini. Kepuasan diraihnya hanya dengan melihat adegan macam begini.</p>
<p>Pelayan yang merasa mendapat kehormatan, melakukan semua dengan pengabdian yang tulus. Dalam pikiran mereka, mereka ada di dunia ratu. Ratu pantai selatan. Mereka merasa mendapat kekuatan setiap kali habis melaksanakan ritual gila itu.</p>
<p>Sastro diam di pojok, melihat permainan seru itu dengan desah tertahan. Eleanor sangat cantik. Saat gelora di puncak, Sastro akan mengakhiri permainan. Sampai Eleanor puas dan menjerit-jerit di pelukannya.</p>
<p>Semua permainan gila itu tidak pernah luput dari pengawasan sepasang mata. Sepasang mata berwarna kecoklatan milik seorang bocah kecil. Yang pada jiwanya telah terpatri kegilaan-kegilaan tak terbayangkan.</p>
<p>Kelak, lelaki kecil ini akan membawa kegilaan itu dan menanggung deritanya di sepanjang hidup.</p>
<div style="text-align: center;">ooOOoo</div>
<p>Ruang rahasia ini demikian besarnya. Bahkan menyediakan ruang-ruang gelap untuk bersembunyi. Disalah satu sudut gelapnya, Robert tertutupi oleh kegelapan. Matanya membelalak. Detak jantungnya terpacu cepat. Tubuh tuanya hampir menyerah oleh pompaan jantung yang luar biasa kuat.</p>
<p>Di depannya, dia menyaksikan kegilaan-kegilaan Eleanor. Dunianya menjadi terbalik. Pikiran warasnya mendadak hilang. Tangannya bergetar hebat. Lalu emosi dan kemarahan membimbing tangan gemetar itu ke arah pinggang dan mencabut pistol yang terselip.</p>
<p>Pada puncak kegilaan Eleanor, Robert menerobos masuk ke tengah ruangan. Matanya semerah darah oleh rasa marah. Kedua tangannya teracung dan sekejap kemudian suasana kamar berubah menjadi ajang pembantaian. Robert dengan kemarahannya menembaki tubuh-tubuh telanjang yang beberapa detik lalu terpacu oleh birahi. Dua pelayan muda tergolek dengan banyak peluru bersarang di kepala mereka. Eleanor terkejut dan mati rasa. Di pojokan ranjang dia berlindung. Matanya tak sanggup menatap mata Robert.</p>
<p>“Lihat aku !!!” Teriak Robert. Eleanor tidak memiliki kesanggupan. Hatinya telah terbang entah kemana. Kengerian luar biasa kini terpampang di depannya. Kedua pelayan mudanya tewas terlentang dengan tubuh telanjang. Muka keduanya hancur dan darah  menggenang di atas ranjang. Tubuh molek Eleanor terkena banyak cipratan darah.</p>
<p>“Eleanor!!! Tatap mataku!!!” Robet berteriak kesetanan Pistolnya teracung ke kepala Eleanor. Perlahan Eleanor mendongakkan kepalanya. Memaksakan keberaniannya untuk menatap Robert. Tepat ketika kedua mata mereka bertemu, bunyi letusan kembali terdengar. Sebuah lubang terbentuk tepat diantara kedua mata cantik Eleanor. Eleanor terjengkang ke belakang. Dia tewas seketika dengan lubang peluru di kepala. Robert terpaku di tempatnya. Kemarahan yang luar biasa membuat tubuhnya serasa melayang. Pikirannya kosong sekarang.</p>
<p>Di sudut kamar yang lain, Sastro Pencor menggigil ketakutan. Dia tidak berani bersuara samasekali. Tangannya mendekap mulut seorang bocah kecil, berusia tidak lebih dari 9 tahun. Kedua tangan Sastro Pencor mendekap erat mulut si bocah. Pada titik tertentu, ketika Robert masih terpaku pada dunianya sendiri, Sastro Pencor memutuskan untuk berjalan mengendap menuju pintu keluar. Robert belum menyadari kehadiran Sastro Pencor dan lelaki kecil itu. Dia baru menyadarinya ketika mendengar suara berat pintu yang tertutup. Pintu besar yang tadi dilewatinya, terbuat dari kayu jati kokoh tebal. Robert memburu ke arah suara pintu tetapi terlambat. Karena dia segera mendengar suara pintu terkunci dan gemerincing gembok. Sia-sia saja dia menghamburkan pelurunya menembaki pintu tebal kamar.</p>
<p>Sekarang dia terperangkap di dalam kamar rahasia itu, bersama tiga mayat yang baru di bunuhnya.</p>
<div style="text-align: center;">ooOOoo</div>
</div>
<p>Novel ini akan terbit tanggal 20 Juni 2009 di seluruh toko buku di Indonesia.</p>
<div>
<dl id="attachment_658">
<dt><a href="../wp-content/uploads/2009/05/si-elle-depan.jpg"><img title="Elle Eleanor Cover" src="../wp-content/uploads/2009/05/si-elle-depan.jpg" alt="Elle Eleanor" width="255" height="404" /></a></dt>
<dd>Elle Eleanor</dd>
</dl>
</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://journey.zeventina.com/?feed=rss2&#038;p=656</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Offshore Speed International</title>
		<link>http://journey.zeventina.com/?p=633</link>
		<comments>http://journey.zeventina.com/?p=633#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Feb 2009 18:02:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tina</dc:creator>
				<category><![CDATA[Work & Design]]></category>
		<category><![CDATA[Zee-M Webstudios]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://journey.zeventina.com/?p=633</guid>
		<description><![CDATA[Duh, lama nian ga update journey ini. Sibuk pacaran ama papih, ajarin Cha bahasa Indonesia, kerjakan design, pulang kampung dari Jerman ke Bandung, sampai portfolio yang seabreg lom sempat terpublish. Yo wis, ta cicil satu-satu aja masukinnya. Jika Zee-M diberkati terus.. tentu itu karena campur tanganNya. Thanks God. Thanks my love. Thanks my partner. Support [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Duh, lama nian ga update journey ini. Sibuk pacaran ama papih, ajarin Cha bahasa Indonesia, kerjakan design, pulang kampung dari Jerman ke Bandung, sampai portfolio yang seabreg lom sempat terpublish. Yo wis, ta cicil satu-satu aja masukinnya.</p>
<p>Jika Zee-M diberkati terus.. tentu itu karena campur tanganNya. Thanks God. Thanks my love. Thanks my partner. Support luar biasa dari semua seperti memompa semangatku beneran deh. Entah mengapa, melihat cermin kepuasan dan kebahagiaan client, aku happy. Ternyata, design memang ga bisa jauh dariku..</p>
<p><span id="more-633"></span></p>
<p>Ini adalah design untuk<a href="http://offshorespeed.com/"> Offshore Speed International </a>di Singapore.</p>
<p><img title="screenshot" src="../wp-content/uploads/2009/02/screenshot.png" alt="" width="300" height="225" /></p>
<p>Selain design, mereka juga order Logo. Logo dibuat berdasarkan visi dan misi perusahaan mereka. Ini capture logonya:</p>
<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-635" title="logohome" src="http://journey.zeventina.com/wp-content/uploads/2009/02/logohome-300x271.jpg" alt="" width="300" height="271" /></p>
<p>MK Cheah dear, thank you atas email manisnya yang menyatakan rasa sukanya terhadap hasil akhir design ini..  terimakasih juga atas kerjasama yang baik selama ini..</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://journey.zeventina.com/?feed=rss2&#038;p=633</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

