Diskusi Novel Elle Eleanor
Ini adalah diskusi (bedah buku) ELLE ELEANOR pertama sejak buku ini diterbitkan. Bedahnya dilakukan oleh Hermawan Aksan yang senyumnya kata orang mirip Mayong suami Nurul Arifin. Aksan memuji, sekaligus mengkritik. Pujiannya antara lain, ending novel ini (yang menghadirkan tokoh Salyo sebagai pembunuh), mengingatkannya pada novel Holywood. Dan banyak lagi.
Kritiknya antara lain, masalah tanggal dan usia Maryati, yang jika dihitung2 jaraknya dengan Johan seharusnya terpaut jauh. Dalam pandangan Aksan, Johan diperkirakan berusia sekitar 60 tahun, tetapi dalam novel disebut berbadan atletis. Kritik lainnya adalah ada beberapa kesalahan editing, cara penulisan koma dll. Jadi jika novel ELLE ELEANOR diibaratkan intan, tinggal diasah saja maka akan menjadi karya yang lebih baik.
Saya salut terhadap pengamatan Aksan. Beliau cukup kritis. Waktu itu, karena tak ada kesempatan jawab, maka kritiknya tak terjawab. Padahal saya ingin menjawab semua kritikan tersebut. Bahwa saat novel itu dibuat, semua tokoh sudah kami buat CV-nya lengkap, mulai tanggal lahir, warna rambut, bentuk tubuh, dialek dll. Jadi soal usia, semua sudah kami perhitungkan matang. Niwey, semua kritik tersebut memacu saya ke depan untuk ke arah perbaikan. Thank you Mayong! Upss.. Aksan..
Kedua, Nana Mulyana. Nana berpendapat bahwa plot cerita novel Elle Eleanor sangat filmis. Sangat mungkin untuk dibuatkan script film. Ide ceritanya juga dipastikan laku jika di filmkan atau sinetronkan. Thank you Nana.
Secara keseluruhan, saya cukup puas dengan diskusi yang dimoderatori oleh Iwan Fauzi ini. Beliau sangat piawai menentukan arah diskusi. Selain beliau hadir juga pembaca narasi, Tandi Skober. Kehadiran beliau membuat diskusi menjadi hangat dan banyak tawa.
Ada pembacaan prolog oleh Michan dan puisi oleh Lisa. Keduanya membaca dengan indah. Khusus untuk Lisa, saya terharu sekali. Penghayatannya akan puisi yang dadakan saya buat lalu diberi sentuhan oleh Zanzad, menjadi hidup. Saya sangat merasa ruh Eleanor hadir malam itu lewat puisi. Thank you so much darling..
Terakhir, pembawa acara yang murah senyum, peramah dan sopan. Desiree, penyiar DFM jakarta. Nona cantik ini begitu lincah, tanggap dan merdu suaranya, membuat orang yang mendengar klepek2 dalam hitungan jam. Sayang sekali microphone di Kongkow tidak bagus, sehingga diskusi yang seharusnya berjalan hidup menjadi kurang.
Acara diskusi ini, membawa cakrawala baru buat saya. Berkenalan dengan banyak orang baru bervisi sama, adalah potensi besar bagi langkah ke depan. Belum terasa sekarang, tetapi efeknya akan mengikuti asal kita konsisten.
Behind the scene, saya dan Zanzad sebagai perancang acara ini, nyaris kehabisan nafas. Kami kapok rasanya, ternyata membuat acara itu tak mudah. Banyak sekali waktu tercurah untuk diskusi ini. dari mulai mencari tempat, membuat janji dengan banyak pihak terkait, mendesign undangan, membuat flash untuk slide, dll. Sementara di luaran sudah ada EO.
Tapi dasar kami sama2 idealis, tak suka mempercayakan acara pada EO. Kami ingin ruh ELEANOR hadir, berkesan dan tak mudah dilupakan..


Wah, aku pengin dong punya novel ELLE ELEANOR ini. Sudah ada di toko bukukah?